Home > Legenda

Sukarno dan Mitologi Laut

Pemimpin Besar Revolusi itu ingin para perwira muda betul-betul meresapi roh kelautan dalam diri bangsa Indonesia.

Presiden Sukarno berupaya keras agar Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) tetap utuh dan kompak untuk melupakan Gerakan 1959. Sebuah gerakan yang dipimpin Mayor (Pelaut) Yos Sudarso dan Mayor (KKO) Ali Sadikin. Mereka tidak puas terhadap pimpinan Angkatan Laut dan meminta panglima tertinggi TNI untuk mengganti Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL).

Pemimpin Besar Revolusi itu ingin para perwira muda betul-betul meresapi roh kelautan dalam diri bangsa Indonesia. Atas saran KSAL Laksamana Madya R Soebijakto, Sukarno melantik Komodor Laut Raden Eddy (RE) Martadinata menjadi KSAL. "Kau Martadinata, aku tugaskan untuk menyatukan kelompok-kelompok yang berseberangan di ALRI kita," kata Bung Karno.

Pada pelantikan Martadinata, Juli 1959, Bung Karno yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kelautan, tetapi memiliki pengetahuan sejarah menunjukkan kepiawaiannya. Ia kemudian merawi legenda dan merumuskan kode-kode rahasia semiotiknya.

Presiden Sukarno. (Public Domains)
Presiden Sukarno. (Public Domains)

Ia menceritakan hal mitos yang belakangan terjadi sejak Kerajaan Mataram yang kedua. Menjadi tradisi sejak Kerajaan Mataram yang kedua itu, tradisi yang mengatakan raja hanya bisa menjadi raja yang besar dan kuat, jika beristrikan Ratu Roro Kidul. Sang ratu dari Lautan Selatan, ratu dari samudra yang dulu bernama Samudra Hindia.

Cerita itu ia ungkapkan kembali saat Musyawarah Maritim Pertama pada 23 September 1963 di Jakarta. Di situ Sukarno dinobatkan sebagai Nahkoda Agung. Ia melanjutkan rumusan tentang apa yang disebutnya dongeng, legenda, dan mitologi itu. Soal benar atau tidaknya, Sukarno menyerahkan kepada masyarakat.

"Apakah benar Sang Senopati, Sang Senopati Hangabei Loringpasar Sutowidoyo, Sutawijaya, yang mendirikan Kerajaan Majapahit, benar atau tidak, yaitu benar-benar kawin dengan Ratu Roro Kidul?"

Itu bukan soal sebetulnya, lanjut Sukarno. Tetapi nyata berisi satu simbolik. Kepercayaan berisi satu simbolik, tidak bisa seseorang raja, tidak bisa sesuatu negara di Indonesia menjadi kuat. Jika tidak punya raja yang beristrikan Ratu Roro Kidul. Menurut dia, simbolik ini berarti bahwa negara hanya bisa menjadi kuat, negara Indonesia hanyalah bisa menjadi kuat kalau ia juga menguasai lautan.

"Negara yang rakyatnya cuma hidup, hidup adem tentrem kadyo siniram banyu waju sewindu lawas di lereng-lereng gunung. Kerajaan yang demikian itu tidak bisa menjadi kuat, apalagi menjadi sejahtera. Jika negara Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawin juga dengan laut," demikian paparan Bung Karno.

Disadur dari Harian Republika edisi 3 Mei 2018.

× Image